Pondok Pesantren Nurul Hikmah, terletak di sebuah lokasi di perkampungan Tambak Sari Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, pondok pesantren ini didirikan pada tahun 1988-1989 oleh KH. Isma'il Sholeh setelah mendapatkan restu dari Syekh Abdul Qohhabul Adzim (Seorang Mursyid Toriqoh Al-Qidariyah wan Naqsyabandiyah) selaku mertuanya. Diawali dengan dibangunnya Masjid beberapa tahun sebelum dibangunnya pesantren di perkampungan tersebut kemudian dibangunlah sebuah pesantren dengan manhaj Ahlus sunnah wal Jama'ah.
KH. Ismail Sholeh menikah dengan seorang wanita bernama Ny. Hj. Nor Abdiyah putri dari seorang Mursyid Toriqoh dan dikaruniai satu putra dan dua putri, yakni KH. Anis cipta Dewata, Ny. Hj Naila aka kusuma dan neng Lu'lu_ah, namun neng lu'lu_ah wafat dimasa kecil pasca kelahirannya. setahun setelah menikah keduanya bwrgegas ke desa Blumbungan untuk melanjutkan misi dakwah pendidikan keislaman, disitulah awal mula perjalanan pendidikan pesantren, setelah pada saat itu mulai ada beberapa anak santri yang menetap untuk tinggal (red, mondok) di pesantren tersebut.
Awal mulanya management pendidikan yang dipakai beliau dengan menggunakan metode sorogan dan bandongan, karena beliau melihat terhadap lokus dan tempus masyarakat sekitar pada saat itu, dengan media salaf yang beliau tekuni beliau mampu mencetak santri dengan memiliki karakter dan kepribadian serta akhlak yang luhur.
Pendidikan pesantren ia kelola bersama dengan isterinya, Ny. Hj. Nor Abdiyah, dengan kesabaran dan ketekunan mereka berdua pesantren ini memiliki kemajuan dalam setiap tahunnya. Keistiqomahan nya menjadi pandangan umum yang selalu dibanggakan oleh santri santrinya, hingga akhirnya banyak orang orang mempercayakan untuk menitipkan putra putrinya di asuh oleh beliau berdua.
Seiring berjalannya waktu pesantren nurul hikmah memiliki kemajuan dibidang salafnya hingga pada tahun 2005 bertepatan dengan malam ahad tgl 13 Muharram istri dr pengasuh yakni Ny. Hj Noer Abdiyah wafat dalam usianya yg ke 35 seminggu setelah kepulangan dari Makkah melaksanakan ibadah haji. Namun sewafatnya Ny. Hj Nor Abdiyah pesantren nurul hikmah tidak mengalami kekosongan, karena masih ada pengasuh yang tetap semangat dalam berjuang untuk pesantren.
Kemudian beliau berupaya untuk membangun kamar kelas dengan tujuan berkeinginan untuk membuat lembaga formal, alhamdulillah keinginan tersebut tercapai, hingga pada pertengahan tahun 2006 lembaga formal yang diupayakan dibuka diawali dengan lembaga RA, MDTA dan SMP. Tiga tahun kemudian dilanjutkan ke jenjang SMA dan MDTW, Dua tahun setelah RA dilanjutkan ke jenjang SDI, sehingga dalam putaran 6 tahun lembaga formal nurul hikmah mampu melengkapi kebutuhan masyarakat dengan status terdaftar dan akreditasi B dan jenjang pendidikan tersebut berjalan hingga sekarang.
Pada tahun 2010 bertepatan dengan tgl 1 Muharram 1431 H. Pengasuh yakni KH. Ismail sholeh menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit, pada saat itu pesantren sempat kebingungan karena masih belum ada kader penerus, putra putri beliau masih dalam tahap pendidikan. Tetapi alhamdulillah putra sulungnya yakni KH. Anis cipta Dewata yang saat itu belum beristri meluangkan waktu untuk melanjutkan pesantren walaupun dalam masa pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, 4 hari di pesantren dan 3 hari di malang, hingga setelah 100 hari kewafatan KH Ismail sholeh beliau mempersunting wanita dari tanah kelahiran Sumenep di pondok pesantren Al-Is'af Klaba'an yang bernama Ny. Hj luluk mukarramah dan dikaruniai empat orang anak, yakni Neng Alifa Hamro Ishaqi, lora Alfin Ajril aufa, lora Ahmed alfan Syarif, neng Alfiah kamilatul hawwa.
Perjalanan pesantren tambah berkembang pada kepengurusannya, bersama istri tercintanya beliau berusaha untuk menjadikan pesantren tetap exis dalam putaran zaman, beliau mengkolabiraskan antara pendidikan salaf dan formal, berbagai macam jurusan ditampung untuk memenuhi kebutuhan pendidikan santri, baik extra maupun intra, mulai dari tahfidzul qur'an, kaligrafi, shalawat al banjari sampai beladiri, kemudian di pesantren tetap budaya salaf yang ditekuni, seperti budaya kitab kuning hingga axeleresi/percepatan memahami kitab kuning yg teebentuk dalam wadah Nubdatul bayan, Kegiatan pesantren formal maupun salaf, extra maupun intra berjalan sampai sekarang.

Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor